Tag Archives: Gus Dur

Misteri “Syi’ir Tanpo Waton” Gus Dur

Sumber: http://www.nu.or.id|16/10/2011 10:36

Gus Dur

Gus Dur

Malam itu, selepas maghrib, ibu-ibu jama’ah Muslimat berdatangan ke rumah salah satu warga di RT 01 RW 06 Kelurahan Dinoyo, Malang, Jawa Timur. Mereka akan mengikuti pembacaan Yasiin dan Tahlil bulanan.

Sambil menunggu semua jama’ah hadir, seorang ibu mengambil micrphone dan mulai melantunkan bacaan shalawat yang mereka sebut dengan Shalawat Gus Dur. Segera setelah itu semua jamaah yang telah hadir turut bershalawat. Lantunan shalawat ini menjadi penanda akan dimulainya kegiatan.

Di daerah Malang dan sekitarnya, Shalawat Gus Dur, atau dinamakan Syi’ir tanpo Waton, syair tanpa judul, ini sekarang sedang populer. Shalawat ini dibaca dalam acara-acara kegamaan seperti tahlilan, tasyakuran, lailatul ijtima’, bahkan dalam rapat-rapat organisasi dan pertemuan ibu-ibu arisan.  Banyak warga yang hapal di luar kepala, meski syair ini agak panjang.

Mungkin bukan hanya karena kandungan syairnya yang sangat mendalam, namun karena dilantunkan dengan lagu yang merdu dan menyayat hati. Beberapa orang mengaku merinding mendengarnya. Dimulai dengan bacaan istighfar, lalu diikuti bacaan Shalawat, dan dilanjutkan dengan bait-bait syair dalam bahasa Jawa yang cukup bagus, dan ditutup dengan bacaan shalawat lagi, berikut ini:

Astaghfirullah rabbal baroya
Astaghfirullah minal khotoya
Robbi zidni ‘ilman nafi’a
Wawafiqni amalan sholiha

Yarasullah… Salamun alaik
Ya rafi’a syani wadaraji
Athfatayyaji ratal ‘alami
Ya uhailalju diwal karomi

Ngawiti ingsun nglaras syi’iran
Kelawan muji maring Pengeran
Kang paring rohmat lan kenikmatan
Rino wengine tanpo pitungan

Duh bolo konco priyo wanito
Ojo mung ngaji syareat bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco
Tembe mburine bakal sengsoro

Akeh kang apal Qur’an Haditse
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke
Yen isih kotor ati akale

Gampang kabujuk nafsu angkoro
Ing pepaese gebyare ndunyo
Iri lan meri sugihe tonggo
Mulo atine peteng lan nisto

Ayo sedulur jo nglaleake
Wajibe ngaji sak pranatane
Nggo ngandelake iman tauhide
Baguse sangu mulyo matine

Kang aran sholeh bagus atine
Kerono mapan seri ngelmune
Laku thoriqot lan ma’rifate
Ugo haqiqot manjing rasane

Al Qur’an qodim wahyu minulyo
Tanpo tinulis biso diwoco
Iku wejangan guru waskito
Den tancepake ing jero dodo

Kumantil ati lan pikiran
Mrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu’jizat Rosul dadi pedoman
Minongko dalan manjinge iman

Kelawan Alloh Kang Moho Suci
Kudu rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadohi
Dzikir lan suluk jo nganti lali

Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo najan pas-pasan
Kabeh tinakdir saking Pengeran

Kelawan konco dulur lan tonggo
Kang podho rukun ojo dursilo
Iku sunahe Rosul kang mulyo
Nabi Muhammad panutan kito

Ayo nglakoni sakabehane
Alloh kang bakal ngangkat drajate
Senajan asor toto dhohire
Ananging mulyo maqom drajate

Lamun palastro ing pungkasane
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Alloh swargo manggone
Utuh mayite ugo ulese

Di Pasar tradisional Dinoyo, Malang, shalawat Gus Dur ini diputar dengan pengeras suara. Bukan oleh penjual kaset, namun langsung dari kantor pengelola pasar. Shalawat Gus mengiringi keriuhan pasar. Bukan hanya itu, beberapa masjid di daerah Malang, Pasuruan, sampai Surabaya memutar shalawat Gus Dur ini menjelang adzan, menggantikan bacaan tarhim yang sudah umum.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang KH Marzuki Mustamar yang mempunyai forum pertemuan rutin bertajuk “Cangkru’an Gus Dur” mengaku ikut mengembangkan shalawat ini. Ia pun yakin, yang melantunkan syi’ir itu benar-benar Gus Dur.

“Semua sudah menyebut ini shalawat Gus Dur koK,” katanya.

Shalawat Gus Dur ini mulai populer beberapa bulan setelah Gus Dur meninggal dunia. Pada akhir tahun 2010, NU Online sudah menjumpai shalawat ini dipasarkan oleh para penjual kaset di salah satu pasar tradisional di Kediri, Jawa Timur.

Belakangan diketahui kaset shalawat Gus Dur sudah beredar di Jombang, daerah kelahiran Gus Dur sendiri. Kaset Shalawat Gus Dur dirangkai dengan doa Abu Nawas yang dilantunkan Gus Dur dan beberapa kegiatan yang diselenggarakan untuk Gus Dur, termasuk juga talkshow bersama Gus Dur di salah satu stasiun televisi swasta, dan prosesi pemakaman Gus Dur.

Namun siapa bisa memastikan kalau pelantun Syi’ir Tanpo Waton itu benar-benar Gus Dur? Kapan Gus Dur melakukan rekaman? Beberapa orang belakangan mempertanyakannya. Alisa Qothrunnada, putri tertua Gus Dur masih ragu pelantun shalawat ini adalah ayahnya sendiri.

Pasalnya Syi’ir Tanpo Waton ini pun belum pernah dikenalkan Gus Dur kepada putri-putrinya, berbeda dengan syair Abu Nawas, Rabiah Adawiyah atau pun shalawat badar.

Suara pelantun Syi’ir Tanpo Waton itu, kata Lisa, terkadang seperti Gus Dur. Namun sebentar kemudian seperti bukan Gus Dur. “Ada bagian yang memang mirip Gus Dur, tapi pada bagian lain tidak,” katanya. Agak aneh memang.

Iklan

Jihad dan Jahid?

AMBON bergejolak. Kerusuhan belum juga reda setelah dua tahun berlangsung. Sebagian masyarakat pun berdemonstrasi di depan Istana Presiden.

Presiden kala itu dijabat oleh Gus Dur, yang telah wafat pada 30 Desember 2009.

Mereka dengan mengatasnamakan kepentingan umat Islam, meminta pemerintah segera menyelesaikan kasus Maluku, yang belum juga tampak tanda-tanda akan reda. Mereka mengancam, kalau pemerintah tidak tidak bisa bisa menyelesaikan kasus itu, mereka akan pergi berjihad ke kota di Indonesia Timur itu.

Melihat massa yang berdemonstrasi begitu banyak, di depan Istana pula, Gus Dur mempersilakan wakil mereka untuk berdialog di dalam Istana.

Dalam dialog yang berlangsung, rupanya titik temu sulit tercapai. Bahkan sesekali terdengar suara keras dari luar ruangan tempat pembicara mereka. Rupanya demonstran bersikeras akan tetap berjihad ke Ambon.

Pertemuan yang hanya berlangsung beberapa menit itu, lantaran tegangnya suasana, akhirnya bubar tanpa kesepakatan tanpa apa-apa.

Dua hari kemudian, kepada sejumlah tamu yang berkunjung ke Istana. Presiden Gus Dur menceritakan peristiwa itu. Dia lalu menyatakan, pemerintah akan bertindak tegas.

“Saya tidak perduli,” tandas Gus Dur.

“Yang Kristen kek, yang Islam kek , kalau menggagu keamanan akan kita tindak. Mau jihad kek, mau jahid kek, kalau mengganggu akan ditangkap!”

Para tamunya hanya terngaga saja, tak sempat bertanya. Mestinya mereka boleh tanya, “Kalau jihad sih kita sudah paham. Tapi jahid itu apa artinya Gus?

Nyebut Bang!

PENAMPILAN Gus Dur ketika memberikan pengantar pidato kenegaraan menyambut HUT ke-55 Kemerdekaan RI di Sidang Paripurna DPR Agustus 2000, jauh berbeda dibanding saat ia hadir di tempat yang sama untuk menjawab  interpelasi DPR. Kali ini dia tampak tegang. Wajahnya agak cemberut.

Namun segala ketegangan akhirnya cair juga. Para anggota DPR malah beberapa kali dibuat terpingkal-pingkal oleh guyonannya.

Di tengah-tengah pidato tanpa teks itu, Gus Dur bercerita tentang seorang kondektur bus asal Sumatera Utara yang bergelantungan di pintu bus. Ketika bus melaju kencang, rupanya sopir bus tak tahu kalau sang kondektur terjatuh kesenggol bus lain. Sang kondektur pun jatuh tersungkur. Kepalanya langsung membentur jalan dan retak. Napasnya sudah Senin Kemis terputus-putus.

Saat itulah datang seorang Betawi yang mencoba menolong kondetktur yang sekarat itu.

“Bang nyebut bang, nyebut,” katanya sambil mendekatkan mulutnya ke telinga kanan kondektur itu.

Maksud orang Betawi ini, agar kondektur yang sekarat tadi menyebut kalimat Syahadat La ilaha ilallah, sebelum meninggal. Tapi karena kondektur tadi bukan orang Islam, dia mengaitkan permintaan nyebut tadi dengan profesinya.

Maka sesaat sebelum menghembuskan napas terakhirnya, sang kondektur tadi sempat menyebut, “Blo..M-Depo….Blo M-Depo…”